ARSITEKTUR KOLONIAL DI INDONESIA

PENGANTAR ARSITEKTUR KOLONIAL

Abad 16 Sampai Tahun 1800-an Indonesia berada di bawah kekuasaan VOC dimana pada masa ini arsitektur colonial Belanda kehilangan orientasinya dan tidak mempunyai orientasi bentuk yang jelas pada bangunan tradisional.
Pembuatan gedung atau bangunan di Indonesia masih buruk karena bentuk bangunannya tidak menyesuaikan iklim dan tidak beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
Museum Fatahillah,Jakarta
Bangunannya bisa dikatakan sangat mirip dengan Istana Dam,Belanda
Karena konstruksi dan pemilihan bahan yang tidak sesuai dengan kondisi tanah Indonesia,museum Fatahillah pernah turun dari permukaan tanah pada pembangunan awalnya ketika akan didirikan lantai duanya.
Conclusion
Arsitektur kolonial merupakan sebutan untuk arsitektur bangunan yang berkembang selama masa pendudukan Belanda di tanah air.
Masuknya unsur Eropa ke dalam komposisi bangunan di nusantara menambah ragam arsitektur yang ada.
Semangat modernisasi dan globalisasi (khususnya pada abad ke-18 dan ke-19) memperkenalkan bangunan modern seperti administrasi pemerintah kolonial, rumah sakit atau fasilitas militer yang kemudian dikenal sebagai bangunan kolonial.
Masuknya Arsitektur Kolonial di Indonesia
Perkembangan Arsitektur Kolonial di Indonesia diawali oleh kedatangan bangsa Eropa yang pertama kali ke Indonesia yakni Portugis, yang kemudian diikuti oleh Spanyol, Inggris dan Belanda.
Kedatangan mereka dengan maksud berdagang menyebabkan mereka mendirikan rumah di sekitar daerah pelabuhan.
Dinding bangunan awalnya menggunakan kayu kemudian diubah menjadi dinding bata.
Arsitektur Kolonial
Periodisasi Arsitektur Kolonial
Abad 16 sampai tahun 1800-an
Tahun 1800-an sampai tahun 1902
Tahun 1902-1920-an
Tahun 1920 sampai tahun 1940-an
Museum Fatahillah,Jakarta
Museum Fatahillah (1620)
Istana Dam,Belanda
Tahun 1800-an Sampai 1902
Tahun 1800-an Sampai 1902
Belanda ingin memperkuat kedudukannya di Indonesia maka membangun gedung mewah dengan gaya arsitektur Neo-Klasik yang sebenarnya berlainan dengan gaya Belanda pada masa itu.
Ciri bangunan masa ini adalah denahnya simetris,terdapat serambi tengah untuk menuju ruang berikutnya,atapnya berbentuk perisai,terdapat mahkota di atas serambi depan dan belakang dan banyak menggunakan pilar.
Gaya Neo-Gothik pada bangunan Gereja Katedral,Jakarta
Penerapan arsitektur kolonial pada bangunan keraton Jogjakarta
Tahun 1800-an Sampai 1902
Selain gaya Neo-Klasik,Belanda juga menerapkan gaya Neo-Gothik terutama pada bangunan gereja di Indonesia.
Ciri dari bangunan Neo-Gothik yakni banyak pilar,dekorasi bangunan lebih sederhana,ukiran pada patung tidak rumit,jendela tinggi menjulang.
Tahun 1902 Sampai 1920
Pada masa ini bangunan Belanda di Indonesia sudah memiliki bentuk yang lebih spesifik.Bangunan yang dibuat sudah dapat menyesuaikan iklim tropis di Indonesia dan memadupadankan dengan bangunan tradisional di Indonesia.
Gaya arsitektur yang digunakan merupakan gaya</p>
<p style=”text-align: left;”>arsitektur modern Belanda seperti Art Nouveau,The Amsterdam School,De Stijl
Lawang Sewu,Semarangsumber</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *